Showing posts with label rambles. Show all posts
Showing posts with label rambles. Show all posts

Thursday, 7 June 2012

Pendidik VS Pengajar, Pekerjaan VS Profesi


Siang tadi di sebuah warung kopi dekat tempat saya mengajar, saya menyempatkan diri untuk melakukan satu hal yang sudah cukup lamatidak sempat saya lakukan, yaitu “menggelar” diskusi warung kopi bersama partner saya tercintah (ecieeee). Entah kenapa, sejak jaman riset TA, saya jadi sering ikut Shu dan kakak2 senior nongkrong ke warung kopi deket rumah.  Tujuan utamanya dulu cari makan dan ngopi selepas begadang nggarap proposal, namun entah kenapa makin kesini ngobrol di warung kopi sama dengan menggelar diskusi panjang kali lebar dengan berbagai macam topik yang (memang) kesana-kemari, tapi tidak ringan.

Obrolan saya kali ini adalah cerita-cerita curhat mengenai beragam kejadian yang akhir2 ini terjadi di tempat saya mengajar. Saya sudah cukup lama tidak ngupdate Shu dengan hal2 yang baru2 ini terjadi di sana. (Saking lamanya ato saking banyaknya), cerita2 itu akhirnya jadi semacam dump memory yang kalo tidak dibersihkan bisa membuat saya lemot. Jadilah saya putuskan untuk bercerita.
Dua topik utama yang saya obrolkan adalah perlu-tidaknya pengetahuan mengenai dunia akademik untuk diberikan kepada sarjana desain yang memiliki minat dalam dunia pengajaran, serta perbedaan karakter pendidik dan anak didiknya.

Sebagai sarjana Desain Komunikasi Visual, saya tentu tidak memiliki bekal yang memadai untuk berkiprah sebagai pengajar tingkat perguruan tinggi. Bekal yang saya miliki adalah bekal untuk dapat menjalani profesi sebagai seorang desainer komunikasi visual, bukan sebagai pengajar desain komunikasi visual. Saya merasa berkompeten untuk berbagi ilmu, tapi saya tidak memiliki bekal kompetensi untuk menyusun silabus misalnya, atau sekedar pemahaman mengenai jalur birokrasi perguruan tinggi pada umumnya (selain karena tentu tiap perguruan tinggi memiliki sistem birokrasinya masing-masing). Yang bisa saya lakukan sementara ini adalah membagikan dan berpegang pada pengetahuan dan pengalaman saya sebagai orang yang telah lebih dahulu tuntas menempuh pendidikan tahap sarjana. Orang-orang lain yang berkeinginan menjadi pengajar pada  jurusan tertentu mungkin masih terakomodasi oleh jurusan2 yg terdapat pada PGRI. Nah, kalo untuk DKV, saya kurang yakin dan kurang tahu apakah masih diakomodasi oleh Unesa (yg dulunya PGRI dan sekarang pun masih punya jurusan desain grafis).

Kata kakeknya Shu, ada empat tipe orang pintar. Yang pertama yaitu orang pandai yang kepandaiannya disimpan sendiri, orang pandai yang pandai minteri orang lain, orang pandai yang mampu membuat orang lain jadi pandai juga, dan orang pandai yang tidak bisa membuat orang lain jadi pandai walaupun dia ingin. Nah, kalau menurut pengamatan saya, tanpa bekal kemampuan mengajar  secara akademis, saya hanya akan jadi tipe orang pandai yang keempat. Tentu saya bisa menjadi tipe orang pandai yang ketiga ketika saya sudah punya pengalaman yang cukup dalam hal kegiatan mengajar. Namun birokrasi dan peraturan pemerintah mengenai kewajiban S2 bagi dosen pengajar mahasiswa S1 membuat saya dibatasi oleh waktu dan durasi untuk menimba pengalaman mengajar langsung. Kalo buat saya sih sebenarnya walau lulusan S2 juga kalau tidak punya kemampuan mengkomunikasikan ilmunya toh juga mahasiswanya tidak akan begitu paham kan si dosen ini ngomong soal apa? Berdasarkan pengalaman pengamatan saya pribadi, saya meyakini ada banyak sekali orang hebat yang tidak pandai menyampaikan ilmunya pada orang lain, dan hal semacam inilah yang sebenarnya kalau bisa tidak terjadi pada orang-orang desain yang punya keinginan untuk menjadi pengajar (dengan cara mendapat pembekalan khusus untuk mengatasi hal semacam ini).

Kedua, dari obrolan kami barusan sih kami merasa bahwa bidang ilmu Desain Komunikasi Visual di Indonesia sendiri masih belum menemukan bentuknya. Yang kami maksud bentuk disini adalah format DKV sebagai bidang ilmu yang tentunya dituntut untuk memiliki tolok ukur keberhasilan atau kegagalan pengajaran yang jelas dalam jenjang keilmuannya.  Semuanya masih berdasarkan pengalaman, sementara saya yakin iklim Indonesia masih belum mengakomodasi para desainer untuk mendapat pengalaman mendesain yang layak. Desainer yang sudah punya pengalaman pun biasanya sudah kadung sibuk dengan lingkungan kerjanya untuk masih dapat menyisakan waktu berbagi ilmu (ditambah lagi penghasilan dari profesi pengajar jelas tidak bisa dibandingkan dengan nilai proyek mereka).

Kalo kondisinya seperti itu, berarti sekarang terpulang pada tenaga pendidiknya dong, mau membentuk anak didiknya jadi seperti apa?
Nah…disini muncul lagi masalah yang sangat mendasar dan juga sangat personal sebenernya.
 Apa yang sebenernya menjadi motivasi tenaga pendidik? Sekedar menjadi pengajar? Atau ingin menjadi pendidik?
Lalu mengajar itu apa? Pekerjaan kah? Atau profesi?

Disini saya membedakan pengajar dengan pendidik, dan pekerjaan dengan profesi, karena bagi saya kedua pasang kata tersebut memiliki makna yang berbeda.
Pendidik itu mengajar, tapi pengajar belum tentu mendidik. Mengajar bagi saya adalah sekedar menjalankan kewajiban mengajar :  menyampaikan materi ajar, melakukan evaluasi,  merekap hasil evaluasi dan memilah mereka yg berhasil diajar dan mereka yang tidak berhasil menangkap apa yang diajarkan. Sementara bagi saya mendidik berarti menjalankan kewajiban sebagai pengajar dengan cara memahami anak didiknya dan pada tahapan yang lebih tinggi menuntun serta memotivasi anak didiknya untuk memahami dan mencapai hasil yang lebih daripada yang sewajarnya didapatkan.

Seseorang bisa saja dibilang punya pekerjaan, namuun pekerjaannya belum tentu bisa dianggap sebagai profesinya. Saya bisa saja bekerja sebagai kasir, hanya karena saya butuh gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun ketika saya memiliki sesuatu yang saya sebut profesi, itu berarti saya memiliki motivasi lebih untuk tidak hanya mendapatkan uang /gaji, namun juga mewujudkan visi dan misi saya melalui apa yang saya kerjakan.

Ketika saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai pengajar, saya bisa tidak ambil pusing mengenai karakter anak didik saya dan serta-merta menerapkan apapun yang dulu guru/dosen saya lakukan pada saat saya masih belajar. Padahal, karakter mahasiswa Despro ITS dan mahasiswa Teknik Perkapalan misalnya, yang masih sama-sama ITSnya saja sudah berbeda. Apalagi karakter mahasiswa almamater saya dengan tempat saya mengajar sekarang. Bolehlah saya menggunakan apa yang dulu diajarkan kepada saya sebagai acuan. Namun mengingat perbedaan karakter manusianya, tentu cara dan metode menyampaikan ilmunya juga tidak dapat disamakan. Nah, kalau sudah begitu, maka sekarang bergantung pada mau tidaknya tenaga pendidik mencoba mengenali dan memahami (dan nantinya memutar otak mencari cara)agar ilmu yang ingin dibagikan diterima dengan baik.

Ketika kegiatan mengajar ini saya lakukan semata-mata hanya sebagai sarana mencari duid, maka saya merasa saya tidak perlulah sampai pusing2  memutar otak mencari cara agar ilmu saya sampai pada anak didik saya. Mau sampai atau tidak, toh evaluasi hasil kerja saya juga tidak dilakukan seketika itu juga. Mau anak didiknya dapat nilai bagus atau tidak, toh yang menuliskan nilainya satu per satu di kertas gambar mereka dan lembar Microsoft excel saya juga tangan saya kan?

Namun ketika saya memiliki motivasi berbagi ilmu dan pengalaman, menganggap pekerjaan saya adalah bagian dari ibadah saya (seperti yang dilakukan orang-orang Jepang yang saya kagumi), dan memiliki keinginan untuk menjadikan pekerjaan ini sebagai sebuah profesi tempat saya bisa mewujudkan visi dan misi saya mengenai dunia pendidikan desain, maka saya pasti akan merasa terganggu ketika saya sudah merasa berusaha semampu saya untuk menyampaikan materi ajar dan lantas disambut dengan keluhan mahasiswa yang tidak paham (atau bahkan masa bodo).

Apakah mereka lantas bisa disalahkan karena ketidak-pedulian mereka terhadap apa yang saya ajarkan? Tidak. Ada ungkapan lama yg berbunyi “Tidak ada murid yang salah. Yang ada ya gurunya yang salah mengajar muridnya”. Sebelum sampai pada keputusan untuk mempersalahkan murid, ada baiknya saya sebagai pengajar bertanya pada diri sendiri apa yang telah salah saya lakukan. Apakah saya telah memberi contoh tindakan menyepelekan hal-hal kecil sehingga mereka menyepelekan hal-hal yang besar? Apakah saya telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang membuat mereka kehilangan rasa hormat kepada saya? Apakah saya terlalu muda dan terlalu hijau untuk menempatkan diri sebagai pengajar mereka? Apakah sesepele saya tidak berhasil menunjukkan apa yang menarik dari materi yang harus saya sampaikan?

Satu hal yang saya sadari dari anak-anak didik saya adalah kecenderungan mereka untuk tidak mempedulikan apapun yang tidak mereka temukan atau rasakan kegunaan/manfaat/fungsinya, baik dalam jangka panjang atau jangka pendek. Dengan kata lain, kalau tidak ditunjukkan apa kegunaan nyatanya menyelesaikan tugas ini dan itu, ya mereka tidak akan ambil pusing dengan tugas A dan B, sehingga akhirnya mereka hanya akan melakukan tugas tersebut sambil lalu sebagai syarat mendapatkan ijazah S1.Karakter mereka yang seperti ini tentunya jelas berbeda dengan mahasiswa perguruna tinggi lain yang mungkin masih akan menyelesaikan tugas A dan B karena (paling tidak) mereka merasa dapat bersenang-senang dengan teman-temannya dalam pengerjaan tugas tersebut, atau mahasiswa perguruan tinggi lain yang mengganggap berhasil menyelesaikan suatu tugas lebih baik dan lebih cepat daripada orang lain adalah sesuatu yang sangat bisa dibanggakan dalam lingkungannya.

Karakter tersebut juga bukan sesuatu yang dapat dengan mudah diubah dalam jangka waktu pendidikan perguruan tinggi, karena telah lama dibentuk oleh sekolah asal, lingkungan tempat tinggal dan pergaulan, proses seleksi penerimaan mahasiswa, serta proses orientasi awal mahasiswa di perguruan tinggi yang bersangkutan. Bisa-bisa saja sih sebenernya karakter mereka dirubah paksa (dan instan) melalui proses OSPEK yang benar. Tapi sayangnya peyimpangan praktek OSPEK pada umumnya telah mebuat proses tersebut tercoreng sedemikian rupa menjadi suatu proses balas dendam senior terhadap junior dan akhirnya dilarang diberlakukan. Kalau sudah begitu, sekarang proses belajar mengajar pasti dikembalikan lagi ke karakter tenaga pendidiknya : apa yang bisa saya lakukan untuk tetap dapat membuat anak didik dengan karakteristik seperti itu mau memahami apa yang harus saya sampaikan?

Sampai disini jujur saya masih merasa belum ada apa-apanya.
Saya punya keinginan, namun saya masih belum tahu apa saya punya kemampuan untuk melakukan apa yang saya inginkan. Saya punya keinginan, tapi masih banyak hal lain diluar kuasa saya yang mungkin akan menghalangi saya untuk dapat berlaku sesuai dengan apa yang saya inginkan. Saya punya keinginan, tapi saya masih belum tahu sampai pada batas apa saya ingin melakukan apa yang saya inginkan. Satu-satunya cara untuk mengetahui jawaban semua pertanyaan saya hanyalah dengan terus berjalan dan berusaha sebaik mungkin menjadi gambaran ideal diri saya, hingga semuanya terjawab atau hingga semua jalan yang saya ketahui tidak lagi bisa membawa saya ke arah yang saya harapkan.

Apa yang saya tulis diatas bukan merupakan kritik terhadap pihak manapun, tapi lebih kepada keinginan saya untuk berbagi hasil renungan pribadi saya terkait dengan apa yang saya lakukan sekarang. Beberapa poin di atas memang merupakan idealisme saya pribadi. Walaupun begitu, sebagai manusia, saya juga tentu masih sering gagal berlaku sesuai dengan idealisme saya sendiri. Saya juga bukannya tidak pernah mengeluh mengenai anak didik saya (sering malah XD), tapi bagi saya yang penting adalah apa yang akan saya lakukan selesai mengeluh : apakah saya akan terus mengeluh dan gengsi dan lantas malah menyangkal dan mempersalahkan pihak lain, atau saya jadikan sebagai pelajaran dan membentuk niatan untuk memperbaiki diri saya di masa mendatang. Minimal, melalui tulisan ini, saya merasa menggambar sebuah peta niatan untuk mewujudkan keinginan saya : menjadikan pendidik sebagai profesi saya disamping menerapkan ilmu saya sebagai seorang desainer. 

Mungkin, suatu hari nanti ketika saya mulai lelah dan ingin berhenti mengajar, saya bisa tersemangati lagi dengan membaca tulisan ini. Walau demikianpun saya rasa hakikat mendidik adalah berbagi ilmu dan pengalaman, dan tentunya tidak perlulah saya merasa terbatasi oleh ruangan yang disebut kelas dan institusi yang disebut sekolah :)


Friday, 9 March 2012

Kyary Pamyu Pamyu- PON PON PON!

Sebenernya udah lama sih tau soal artis penyanyi yang satu ini, tapi baru kemaren saya cari tau n liat video klip-nya, yang ternyata aneh bin ajaib :D





Her name is Kyary Pamyu Pamyu, which is supposed to read Carrie Pam Pam in english XD. Her official stage name is Caroline Charonplop Kyary Pamyu Pamyu (whaaaaat??).She was born on January 29, 1993, as Takemura  Kiriko (竹村キリコ) . Satu lagi singer ajaib yang lahir di bulan Januari selain Hyde.

Cewek cantik dan lucu ini ternyata pengamat harajuku fashion yang sering nongol di majalah dan punya label bulu mata palsu sendiri XDDD. Entah kenapa, gayanya di foto2 dan video klip ini mengingatkan saya pada Isoya Yuki-nya Judy and Mary yang kurang lebih sama nyentriknya (silahkan tonton PV-nya yang berjudul Melancholinista). If I'm about to describe her PV in words, that would be Cute, Freak, and Adorable. Some people even says that she's a cute version of Lady Gaga in Japan.

Her music? well, saya memang cukup suka sama musiknya. Semacam musik2nya Perfume, tapi lebih ngepop daripada electro. Lebih ringan dan ear-catching saja ^^

Video klipnya memang cute walopun rada freak, tapi ternyata musiknya masih selera saya :D jadi buat saya video klip ini gak masalah. Cuman, yang bikin rada sebel adalah video klipnya yang satu lagi (Tsukema Tsukeru) yang entah kenapa dikait2kan dengan konspirasi Illuminati. Yes, indeed there are too many hints of Illuminati symbolism within that video clip, but can't we just have a good watch and listen to someone's PV without really being bothered by it all? bagaimana kalau semua simbolisme itu cuma cara Kyary dan manajemennya untuk making fun of it? You know Japanese, they born a Shinto, live their life, get married at the Christian Church and die as a Buddhist....they don't really care about something lke that.

Ah, satu lagi! pacarnya kawaii juga loh! Dan cowoknya pake geolens =_=a (picture taken from Petto-chan's FB)


Saturday, 10 December 2011

Tribute to The Pledge - Dir en Grey

This song, especially the unplugged version, was introduced to me by a friend in my multiply blog. Surprisingly, the song etched deeply in my heart, and somehow it could always ease my anger or sadness though the song itself seems like filled with both plus despair :D
The drawing was being drew at the time I was too sad and too angry to express it without hurting anyone's feeling....so, back then I grab a paper and a pen and started scribbling like mad.



mitsumeteta awai negai o egaki
naze furueteiru? kodoku o kakae shounen wa seiten no sora ni nanimo nai koto no imi o
naze ni rinen wa haru
haruka tooi yakusoku no koe
mou kikoeyashinai sa

nagare katachi o kaeteyuki kieru
ima mo kokoro ubaware yaketsuku kusari no ato
urabureta koe koko ni hitori

naze ni rinen wa haru
haruka tooi yakusoku no koe
mou kikoeyashinai sa

This is my pledge to you

mada umaku ikirarenai sa
kaerareru no wa tada...

asu ni ikasaretemo
nanimo kawaru hazu no nai hibi
mada owarenai
komi ageru kokoro ga mada
saku no nara kotaetemiro yo

daremo iyase yashinai



I express the fleeting wish I had been gazing at
Why are you shivering? The lonely boy looks up at the sunny sky that holds no meaning


Where is the philosophy of spring?
The long lost promise
It cannot be heard anymore


As time goes by it changes shape and disappears
Even now after my heart was taken and rotted
My miserable voice is alone here


Where is the philosophy of spring?
The long lost promise
It cannot be heard anymore


This is my pledge to you
I cannot live successfully yet
But I think I can change


Even if tomorrow lets me live
The days will not change
It will not end
If my full blown heart blooms again
Then answer me


I can't comfort anybody

Wednesday, 26 October 2011

ternyata jadi pengajar itu seru :D

Lama gak nulis-nulis notes, akhirnya saya kangen nulis juga :D
Hari ini sudah hampir 2 bulan saya mulai menjadi tenaga pengajar tidak tetap di salah satu calon PTN di Surabaya. Sebuah profesi yang sebenernya cukup mengagetkan diri saya sendiri, terutama karena sejak kecil saya samasekali ndak kepikiran untuk jadi guru (atau semacam guru).
Yep. Cita-cita jadi pengajar itu justru benar-benar baru muncul di akhir masa kuliah. Sebelumnya? ngebayangin aja nggak XDDD
Saya orang yang termasuk cepat dan mau belajar, tapi sangat geregetan ama orang yang diajari kayak gimana juga gak ngerti-ngerti. Makanya, saya seringkali nolak rikues guru2 semasa sekolah dulu untuk mbantu ngajari temen2 saya, daripada saya jadi geregetan sendiri trus akhirnya malah tanpa sadar ngomong sesuatu yang bikin hubungan pertemanan jadi buyar ^^;;.
Jangankan teman. Adek2 saya pun lebih sering males saya ajari karena mulut saya yang pedes ini.

Trus kenapa mendadak tertarik jadi pengajar?

Salah satunya mungkin justru karena saya kuliah di DKV ITS ya... Semasa berkuliah, seperti lazimnya anak kuliah, tentu saya dan teman-teman (lintas angkatan) pernah lah ngobrolin dosen, ngobrolin mata kuliah, dan tentu ngobroli berbagai cara ngajar para dosen kami saat itu. Ada yang senang cara ngajarnya pak ini, ada yang lebih suka diajar oleh pak itu, ada yang mikir seandainya matakuliah ini diajarkan oleh dosen yg itu mungkin bakalan lebih "nyandak" ketimbang diajar sama dosen ini, dan berbagai rasan-rasan khas mahasiswa lainnya. Dari rasan-rasan (yang entah kenapa kesimpulan-kesimpulannya malah nyantol di otak) ini, pada beberapa kesempatan, saya sering dijadikan sarana konsultasi oleh teman-teman tentang tugas yang kami hadapi. Ringan-ringan saja sebenarnya...sekedar tanya enaknya bikin asistensi yang seperti apa, atau asistensian ini kurang apa kok sampai ditolak ama dosen ini, atau hal-hal semacam itulah. Ndilalah sih, ternyata beberapa saran saya gol ketika dijadikan asistensi.

Setelah agak kecewa dengan pengalaman kerja saya di suatu tempat selepas wisuda kemarin, akhirnya datang tawaran mengajar dari mas Iqbal. Harapan saya sih awalnya ndak muluk-muluk, asal dekat dengan rumah dan membuat saya merasa nyaman karena tidak merasa "stuck" aja sih sepertinya udah cukup untuk dijadikan pegangan sementara ini (berhubung nyokap punya anggapan udah selesai kuliah ya kerja, mbuh dimana gitu). Saya sendiri tertarik mengajar lebih karena saya rasa jadi pengajar lebih punya kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang, dan bisa belajar lebih banyak hal lagi, apapun itu :D. Lucunya, ketika saya mengabarkan hal ini ke beberapa teman dan sahabat, tanggapannya malah "Wah! cocok banget itu Ast!", "pantes deh kayaknya mbak", dan kalimat-kalimat sejenisnya...XDD

Awalnya, tentu kagok sekali. Saya bingung mau menempatkan diri jadi teman sharing atau menjadi sumber ilmu. Saya tidak ingin disepelekan, tapi saya juga (awalnya) nggak mau dipanggil "Bu". Lebih lagi nama saya kalo dipenggal dan ditambah sebutan "Bu" bisa-bisa jadinya malah "BuAs" =___=a (yeah, yang ini asli kekhawatiran gak penting deh sebenernya). Saya punya idealisme, saya ingin berbagi ilmu, saya ingin terus belajar, saya ingin berada di lingkungan yang dinamis. Tapi jelas ada rasa ragu, apakah saya yang seperti ini pantas untuk mengajar orang lain, terlebih berambisi tidak hanya jadi seorang pengajar, melainkan seorang pendidik? Apakah saya yang sekarang sudah cukup ilmu untuk dibagikan kepada teman-teman mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengganggu saya dan cukup membuat saya nervous di minggu pertama semester ganjil ini.

Tapi dengan dukungan banyaaaaaaaak sekali teman, sahabat, dan rekan-rekan di UPN, setelah berjalan sekitar enam minggu ini sepertinya saya mulai bisa menemukan cara saya sendiri untuk berbagi ilmu dengan rekan-rekan mahasiswa. Saya mulai merasa enjoy dengan segala tingkah mahasiswa di dalam kelas. Saya mulai menikmati segala keajaiban kelakuan mereka di dalam kelas, mulai mengapresiasi sebagian mahasiswa yang dari tugas-tugasnya menunjukkan perkembangan, mulai berusaha menghafal nama mereka (walau mungkin gak bisa semuanya ya), termasuk (kadang) tertawa sambil heran mengamati mereka bersama rekan pengajar yang lainnya :D

Ngajar juga ternyata bikin saya makin merasa hormat sama para pendidik dan pengajar saya sejak saya mulai mengincipi sekolahan. Ngajar membuat saya makin kagum sama guru-guru dan dosen-dosen saya, dan membuat saya merasa bahwa mereka semua adalah orang-orang keren. Beberapa kalimat yang pernah mereka katakan semasa saya masih sekolah/kuliah mendadak teringat kembali di kepala dan menemukan maknanya ketika saya melihat dan merasakan sendiri kondisi beliau-beliau ini ketika mengajar atau berhadapan dengan mahasiswa. Celetukan simpel salah satu dosen saya di semester 1("kalian ini kan orang DKV....ngapain beli tabung gambar kayak anak arsitek?") akhirnya teringat kembali dan baru bisa saya pahami kondisi dan artinya saat ini. Sungguh saya belum ada apa-apanya dibanding mereka semua, baik yang serius menjadi pendidik maupun yang sekedar ngajar. Kata Shu, kalo saya sudah bisa berempati sampai kesitu, mungkin memang ini jalan hidup saya yang harus saya temukan selama ini. Ada kaitannya ama Dharma dan Karma kalo gak salah, entah bagaimana menjelaskannya(saya lupa...=__=a).

Profesi ini jelas tidak gampang, tapi saya masih pingin terus belajar supaya yang tidak gampang ini bisa saya lakukan. Ngajar itu ternyata seru, walopun nggak gampang :) Ngedengerin mahasiswa guyon pas ngerjakan tugas di studio itu sangat refreshing dan bikin saya tetep update ama gaya guyonan terbaru masa kini (hayah!). Memperhatikan raut muka mahasiswa yang nggak dapet absen gara-gara telat itu terasa fun(dan agak ngeselin), sementara memperhatikan raut muka mahasiswa yang (sepertinya) jadi nyandak ama materi yang saya bawakan itu sangat-sangat-sangat menyenangkan :D Ngobrol-ngobrol sama mbak-mbak dan mas-mas sesama dosen juga bikin saya tetep update ama dunia DKV. Pendek kata, I love this job, dan akhir-akhir ini malah saya justru jadi mellow kalo sedang di rumah dan tidak mengajar XDDD.

Yah, semoga besok-besok level saya bisa naik dari jadi "pengajar" ke jadi "pendidik". Tentu kudu ada prosesnya, kudu tamat satu game lagi kalo mau terus lanjut (game itu berjudul "S2" T^T) dan kudu banyak-banyak belajar apapun. Soal itu sih mari kita lihat saja nanti :) Let's just hope and pray for the best.

Dan satu lagi, saya baru sadar kalo ternyata saya memang "BuAs" T^T, apalagi soal kerapian tugas, disiplin waktu, ama sopan santun(lha kok?) wakakakakak~~

Tuesday, 23 August 2011

the wishlist

When I opened my blog yesterday, I accidentally read my wish list tab and found out that about four (actually, five) wishes among eleven had become reality within six month.
I believe in the law of attraction though I don't always applied the law to almost everything around me. But here, once again it has proven to me to be true.
Thank the Almighty God for making the law works to me :D
It's been 6 month full of grace for me, and all because of Him.

Sunday, 3 April 2011

Music (and my thoughts of it)

Just like everyone else said, music is great.

Today I finally watch BECK live action movie. I don't really follow the manga version but I've gotta say that this movie is great. I was a little bit repulsed by the wig worn by Hiro Mizushima as Minami Ryuusuke at first. But as the movie goes on, the ambience improve drastically, especially at the ending part.

Okay, you may call me overreacting but I myself think that music is magic. It has been with the nature since the very beginning of time, and it has been inside every one of us since the day we're born. Every sound made by nature, on it's own category can be heard as music. Every voice that we spoke, on it's own definition can be heard as music. Of course there are voices that we love to hear and voices that we refuse to hear if possible. But I think, composed with certain dose of other voice and rhythm and moods, it could always be the sound that we find amusing. Music pacifies a crying baby. Music rejuvenate people of certain sickness. Even plants are reacting to the music played for them. Don't you think that music is magical enough?

Music can gather a huge number of mass in one place, brings them peace or brings the riot among them. The same favorite music ties two strangers in a love relationship they don't even imagine at first. Music ties people to make more music in a band, and with the other bands they united into one community under the name of Ko-J-Tsu (one of Surabaya's Japan Lover community; I'm one of its member). Music send an ordinary looking boy to a country he had never imagine to learn more about it.  I was so touched by a friend story that tells one of his mentally-handicapped student (he's a drum private teacher and a superb musician) asked him to play a song at the end of their lesson, and cheerfully shouted "One Piece!!!" when he played one of the animation series' soundtrack (titled "Memories"). Again, don't you think that music is a power sooo great that everyone can be affected without seeing or touching  the real substance of it?

I don't really know about you, but sometimes, when I'm amazed at something, I heard a music created inside me. When things get bad while I have no power to make it better at the time, I listen to the songs that suit my mood, or even heard another music coming from my head. I got goosebumps when I heard a very good piece of music, and though I don't precisely know what is wrong, I know when a music is not played at the extent of the musician's skill.
Music is inside every one of us, just like the air we breathe. We are born with it. We listen to it, like it or not. We speak through it. We live through it, and some of us are lucky enough to live for it on the stage or in the recording room. No one really hate music. Even some of us who couldn't produce a very nice voice or not well educated in music could not prevent themselves from appreciating music in its many form.
I play music, though my self-taught skill of course never as great as anyone well educated in music. I sing, to my heart content, though at first I doubted myself. I have my own preferences in music genres though I will humbly admit all the good piece of music beyond my preferences. 

All in all, I love music :) (and I honestly hope that Indonesian taste for music will soon improved)



Friday, 13 November 2009

My first entry^^

Hmm......
what should I do on my first post?

an introduction about myself?

well.....okay^^

My name is Kuroneko Kia. I'm a black cat who live in the mind of a girl (or am I her true mind? well, i dunno..).
She used to be so fragile and introvert,pushing all her burden only to herself. Her physical condition make her unable to run like a healthy child, and she passes all the P.E study in her elementary school. She had her nose bleeding in extreme temperature change quite frequently. This condition makes her feel odd, weak, and unworthy. A boy that she liked so much in school secretly tell a friend that he didn't want to be with her because it will be troublesome for him to have her fainting when she get sick. However, her health had improved during these years, though she still unable to run like healthy ordinary people.

She had only several friend, though she is quite gifted in studying language and art. She got frequently dissappointed from her friends who takes advantages of their friendship. This kind of situation  makes her diverting her concerns from friends to art and designs. She became extremely addicted to Japan and all of the cultural product of Japan. She loved manga and manga style drawings. She loved playing console game and online game. She loved gothic-lolita fashion, japanese music, cosplay, ball-jointed doll, japanese food, movies, and dramas. She loved japanese ancient culture too...

Then she created me after her highschool graduation day to help her get through the orientation days in her college. A cat, harmless, yet fun and graceful, to represent herself in her new environment.
 And one day, I found a guy who picked me and willing to take care of me. A master. The kindest master a cat could ever met. He took care of me while nursing her frail heart. He makes her felt worth everything for the first time.

During those periods I draw figures and characters. They had their own background story, and some of these pictures are connected to each other.
Our drawing talent went better as she studied on Visual Communication Design. She learn a lot, getting along well and having the largest amount of good friends and seniors she could ever imagine. Having a new world, getting new place to be called as her home, and new wonderful knowledge of this world.

And me? i'm still here^^. taking over her place whenever she needs me to do that.

That's what I want to tell you about us.
yoroshikuuu nyaaa~^^

this is my master (left) and the other me^^.
They've been together for three years now.